Seperti
itulah kondisinya, namun Islam menampilkan sesuatu yang berbeda.
Wanita
tentu memiliki kelemahan, tapi itu bukan sesuatu yang buruk. Dari satu sisi
mereka tidak menginginkan demikian, namun di sisi lain malah terpuji dan
menguntungkan. Sisi yang pertama adalah kelemahan fisik dan ini bukan sesuatu
yang tercela. Sisi kedua adalah lemah hati dan perasaan, dan tentu saja ini
adalah hal terpuji. Semakin bertambah perasaan ini—tanpa berlebihan—akan
semakin baik.
Rasulullah
menghargai kelemahan yang ada pada wanita ini, berusaha untuk menjaga mereka
dari segala gangguan fisik ataupun non fisik, serta menunjukkan kasih sayangnya
kepada mereka dengan beragam cara dan dalam banyak kondisi.
Rasulullah
selalu bersabda kepada para shahabat beliau, ”Pergaulilah wanita dengan
baik.”[3] Nasihat ini banyak berulang ketika hujjatul wada’, ketika beliau
berkhutbah di hadapan ribuan umatnya. Rasulullah yakin bahwa nasihat ini sangat
penting sehingga menjadikannya sebagai bagian khusus dari khutbahnya pada saat
itu.
Rasululluh
bersabda pada hari itu:
وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ
خَيْرًا فَإِنَّمَا
هُنَّ عَوَانٌ
عِنْدَكُمْ
“Pergaulilah
wanita dengan baik, sesungguhnya mereka adalah tawanan[4] bagimu.”[5]
Rasulullah mengumpamakan mereka
seperti tawanan, sebab kepemimpinan itu ada di tangan laki-laki. Putusan talak
juga berada di tangan laki-laki. Adanya kekuatan pada laki-laki dan kelemahan
pada perempuan sering membawanya kepada sebuah kondisi yang sulit. Oleh karena
itu, Rasulullah ingin menumbuhkan kasih sayang laki-laki kepada mereka dengan
sabda beliau:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ
لِأَهْلِهِ وَأَنَا
خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Orang yang
paling baik di antara kalian ialah orang yang paling baik terhadap keluarganya,
dan akulah yang paling baik kepada keluargaku.”[6]
Dalam
sebuah kalimat yang indah Rasulullah menyamakan antara kedudukan laki-laki dan
perempuan tanpa mengurangi kedudukan mereka sebagai perempuan. Beliau bersabda:
إِنَّ النِّسَاءَ
شَقَائِقُ الرِّجَالِ
“Sesungguhnya
perempuan adalah saudara kandung laki-laki.”[7]
Ibnul Atsir berkata, “Saudara
kandung laki-laki artinya bahwa perempuan itu setara dan setingkat dengan
mereka.”
Rasulullah
menyuruh kaum muslimin untuk tidak membenci perempuan walaupun ada tabiat yang
kurang baik pada diri mereka. Beliau bersabda:
لاَ يَفْرَكْ
مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً
إِنْ كَرِهَ
مِنْهَا خُلُقًا
رَضِيَ مِنْهَا
آخَرَ
”Janganlah
seorang mukmin benci kepada seorang mukminah. Apabila ada perilaku yang dia
tidak senangi darinya, maka ada bagian lainnya yang dia sukai.”[8]
Tentu beliau memahami hal ini dari firman
Allah SWT (yang artinya):
"...
Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin
kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang
banyak." (An-Nisa: 19).
Yang paling
perlu diperhatikan adalah bagaimana beliau mempraktekkannya dalam kehidupan.
Kalimat-kalimat beliau yang indah tidak hanya memberikan ketenangan pada
perasaan atau sekadar basa-basi tak bermakna. Kalimat ini benar-benar terwujud
nyata dalam keseharian di rumah beliau dan para shahabat.
Kami berani
menantang dunia untuk coba memberikan satu contoh sikap Rasul yang menyakiti
hati perempuan, baik itu dari istri-istri beliau, perempuan-perempuan muslimah,
atau bahkan wanita-wanita musyrik. Pasti tidak akan ditemukan! Cukuplah kami
menyajikan beberapa sikap beliau kepada perempuan—walaupun tanpa komentar—agar
kita mengetahui bagaimana kasih sayang beliau kepada mereka.
Suatu saat
Abu Bakar meminta izin untuk masuk ke rumah Rasulullah saw. Tiba-tiba beliau
mendengar Aisyah, anaknya, bersuara dengan keras. Beliau masuk dan hendak
menampar Aisyah. “Aku tidak ingin melihat kamu bersuara keras di depan
Rasulullah,” nasihatnya. Rasulullah langsung menghalanginya. Abu Bakar pun
keluar dalam keadaan marah. Rasulullah lalu bersabda, “Bagaimana pendapatmu
terhadapku? Aku telah menyelamatkan dirimu dari kemarahan ayahmu.” Abu Bakar
tidak datang selama beberapa hari, kemudian kembali berkunjung ke rumah
Rasulullah. Dia mendapati keduanya sudah berbaikan. Abu Bakar bersabda,
“Izinkan aku masuk dalam damai kalian sebagaimana kalian telah mengizinkan aku
masuk ketika kalian dalam perselisihan.” Nabi bersabda, “Sudah kami lakukan,
sudah kami lakukan.”[9]
Di sini
terlihat bahwa kasih sayang Rasulullah melebihi kasih sayang seorang bapak.
Dalam kisah ini, ayah Aisyah, Abu Bakar Ash-Shiddiq, ingin menghukumnya atas
kesalahannya, namun Rasulullah menghalanginya.
Terkadang
istri beliau melakukan kesalahan yang besar di depan umum, yang menyebabkan
kekesalan di hati beliau. Namun beliau tetap memahami kondisinya, memaklumi
kelemahannya, dan memaafkan kecemburuannya. Beliau tidak bereaksi atau
melanggar batas. Beliau tetap bersikap lunak dan memaafkan.
Anas bin
Malik meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah berada di rumah salah seorang istri
beliau, tiba-tiba ada istri beliau yang lain mengirimkan makanan. Sang istri
ini langsung memukul tangan Rasulullah hingga makanannya jatuh dan nampannya
terbelah dua. Rasulullah menyambungkan kembali nampan ini dan mengumpulkan
makanan. Beliau bersabda, “Ibu kalian (Ummul Mukminin) sedang cemburu.
Makanlah!” Mereka pun makan. Beliau menahan piring itu sampai Aisyah datang
membawa piring lain yang utuh dari kamarnya. Lalu Aisyah menyerahkan piring
yang masih bagus itu ke Rasulullah saw. Dan beliau pun meninggalkan piring yang
pecah di tempat orang yang memecahnya (Aisyah r.a).”[10]
Rasulullah
melewati kondisi ini dengan mudah. Beliau mengumpulkan makanan yang terjatuh
dan bersabda kepada para tamunya, “Makanlah.” Beliau menerangkan bahwa penyebab
marahnya adalah rasa cemburu, tanpa lupa mengangkat derajatnya. “Ibu kalian
sedang cemburu,” kata beliau. Ibu kalian berarti Ummul Mukminin.
Alangkah
besarnya kasih sayang yang ada di hati beliau.
Sebelumnya
telah kami sebutkan bahwa kasih sayang beliau kepada anak yatim sangat agung.
Begitu pula kasih sayang beliau kepada janda.
Rasulullah
mengangkat derajat orang-orang yang memperhatikan urusan para janda sampai pada
derajat yang tak seorang pun dapat membayangkannya. Beliau bersabda:
السَّاعِي عَلَى
اْلأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ
كَالْمُجَاهِدِ فِي
سَبِيلِ اللهِ
أَوْ الْقَائِمِ
اللَّيْلَ الصَّائِمِ
النَّهَارَ
“Orang yang
mengurusi janda dan orang miskin seperti mujahid di jalan Allah atau orang yang
shalat sunat di malam hari dan berpuasa di siang hari.”[11]
Sungguh,
alangkah agungnya!
Rasulullah
adalah orang yang paling cepat mengamalkan apa yang beliau ucapkan. Abdullah
bin Abi Aufa menuturkan bahwa Nabi Muhammad saw tidak menolak berjalan bersama
janda dan orang-orang miskin untuk menunaikan keperluan mereka.[12]
Ada yang
lebih menakjubkan dari hal itu, yaitu kecintaan beliau kepada budak-budak
perempuan. Anas bin Malik menuturkan, “Sungguh ada seorang budak perempuan di
Madinah yang memegang tangan Rasulullah dan membawanya kemana dia suka.”[13]
Ibnu Hajar
memberikan komentar atas hal ini. Ia berkata, “Adanya ungkapan akhdzul yad
(memegang tangan) menunjukkan tingginya pelayanan beliau, walaupun keperluannya
berada di luar kota. Ia akan meminta bantuan beliau atas hal ini. Ini
menunjukkan akan ketawadhuan beliau dan terlepasnya beliau dari segala bentuk
kesombongan.”[14]
Sekarang
kita bertanya...
Adakah
penduduk bumi ini mendengar seorang pimpinan negara atau pimpinan sebuah umat
pergi kesana kemari untuk menunaikan keperluan seorang budak perempuan yang
tidak memiliki apa-apa?
Apa yang
kita lihat dari Rasulullah ini menjadi dalil yang sangat kuat akan kenabian
beliau. Akhlak yang sangat mulia ini tidak akan muncul kecuali dari seorang
nabi.
Benarlah
firman Allah (yang artinya):
"Dan
tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam."
(Al-Anbiyâ’: 107).

No Comment to " Kasih Sayang Rasulullah Kepada Perempuan "