Suasana
silang pendapat pada sebuah pertemuan, mendadak terhenti ketika suara telepon
seluler berdering dan pemiliknya menerima dengan sikap tegang, kemudian bangkit
dari kursi, menampakkan ekspresi kegugupan.
"Maaf,
saya harus secepatnya pulang. Ada keperluan mendesak, kucing saya hendak
beranak dan barangkali harus menjalani operasi caesar," kata Siti Huraira,
penerima panggilan ponsel itu, yang adalah seorang hobiis kucing Persia di
Surabaya, Jawa Timur.
Segenap
peserta pertemuan saling berpandangan sejenak, kemudian sibuk menahan tawa.
Bagi perempuan yang akrab dipanggil Bunda ini, respon masyarakat terhadap sikap
perhatiannya pada kucing, sudah biasa diterimanya.
"Wong'
cuma kucing saja kok, dibiarkan saja juga beranak sendiri. Gitu saja kok
repot," kata Huraira, menirukan ucapan rekan-rekannya.
Namun, ujar
perempuan yang hobi menyenandungkan lagu 'Somewhere Over the Rainbow' ini,
tidak banyak orang yang tahu, jika kucing Persia hendak beranak sangat butuh
pertolongan, tidak ubahnya seperti manusia hendak melahirkan. Apalagi jika
bayinya dalam kondisi sungsang, hingga susah keluar, terpaksalah langkah
operasi caesar dilakukan untuk menyelamatkan induk dan 'kitten', yakni bayi
kucing.
"Itu
yang terjadi pada kucing saya bernama Smarty. Selanjutnya, kelahiran caesar
juga dialami kucing saya yang lain bernama Laura. Ketika ketuban pecah, dan tak
bisa kunjung bisa beranak, akhirnya kucing itu saya larikan ke klinik,"
katanya.
Huraira
melanjutkan, sesampai di klinik, dokter langsung 'rontgen' kucing dan ternyata
posisi bayinya malang melintang. Mau tidak mau, Laura akhirnya harus menjalani
caesar. Operasi pun berjalan baik, Laura dan anaknya terselamatkan.
Menangani
kucing yang baru selesai menjalani operasi caesar, harus lebih sabar. Pemilik
kucing mesti membantu satu per satu anaknya untuk disusukan kepada induknya
secara perlahan-lahan.
"Kita
harus sangat sabar, supaya induknya mau menyusui dalam keadaan sakit bekas luka
caesar-nya. Agar anaknya dapat menyusu dengan baik, maka kita wajib
menolongnya. Sebenarnya, dua hari sebelum kucing beranak, kita berikan pula
tablet moloco, supaya ASI benar-benar lancar untuk memenuhi kebutuhan
kitten," katanya.
Berawal
dari Benci
Melihat
ketelatenan Huraira pada kucing, siapa sangka, dahulu dia mengaku kalau
membenci satwa tersebut. "Dulu, saya benci kucing. Justru suami saya,
Burhan CH, yang sangat menyayanginya. Sebelumnya ada kucing lokal yang suka
datang sendiri ke rumah, dan selalu diberi makan oleh suami," ujar dia.
Lama-kelamaan,
kucing itu lengket dengan Burhan dan diberi nama Jackson. Namun, Huraira malah
sama sekali tak menyukainya, karena menganggap kucing suka kencing dan BAB di
sembarang tempat.
Menurut
Huraira, terdorong rasa benci atas kejorokannya, hingga sempat terlintas di
benaknya untuk membuang kucing itu jauh-jauh dari rumahnya. Justru, ketika
keinginan untuk membuang kucing itu belum terlaksana, tiba-tiba Jackson
menghilang dari rumah Huraira.
Ketika
Burhan pulang kantor, Jackson tidak menyambutnya seperti biasanya. Burhan mulai
resah, apalagi ketika ditunggu hingga sore, Jackson tak kunjung datang.
"Suami
kelihatan sangat gelisah. Semua yang ada di rumah, diminta turut mencari sampai
ke halaman luar rumah. Semua lemari mulai dibuka satu-satu, tempat tidur
'diorat-arit, geser sana-sini, hasilnya nol. Pembantu rumah tidak dibolehkan
kerja sebelum Jackson ketemu, alhasil orang serumah kelaparan semua, juga
ikutan stres," ujar dia.
Keadaan
ini, kata Huraira, membuatnya mulai merasa bersalah, dan didera rasa kasihan
kepada suaminya yang stres. Di pihak lain, perempuan ini diam-diam mulai
merindukan Jackson. Dari situlah, benih-benih suka kucing mulai tertanam di
hatinya.
Gayung
seolah bersambut, ketika sedang bermain di rumah salah seorang temannya,
kebetulan yang bersangkutan memelihara kucing Persia. Ketika melihat kucing
Persia itu, Huraira dirambati rasa suka yang mendalam. Apalagi dia teringat
pada suaminya yang kecewa kehilangan Jackson, maka tercetus keinginan di hati
untuk memiliki kucing.
Huraira
mulai menabung karena berniat mengadopsi kucing Persia sebagai hadiah ulang
tahun suami. Setelah tabungan terkumpul, tercapailah cita-citanya untuk
memberikan 'surprise' kado ulang tahun suami berupa kucing Persia. Mulai dari
sinilah, Huraira benar- benar tumbuh rasa sayang pada satwa itu, apalagi kucing
Persia adalah jenis yang bisa diatur, khususnya dalam hal kebersihan.
"Kucing
Persia pertama yang saya adopsi bernama Smarty dan Bobo. Smarty, kucingnya
'bulet', `gimbul? dan cantik. Sejak saya pelihara 18 tahun lalu, Smarty sudah
punya 70 anak dan keseluruhannya sudah diadopsi teman-teman pencinta kucing,"
katanya.
Huraira
mengatakan, Smarty diadopsi dengan harga Rp2,5 juta pada usia dua tahun. Sedang
Bobo yang merupakan kucing jantan, diadopsi dengan harga Rp1,5 juta ketika
menginjak usia 1,5 tahun.
"Pertama
kali memelihara Smarty dan Bobo, kami sekeluarga sangatlah senang, karena
melihat suami begitu ceria, terobati kekecewaannya ditinggal Jackson. Kami
memang antusias sekali mendapatkan kedua kucing itu karena lucunya, hingga
kerepotan dalam merawatnya tak kami rasakan. Rasanya seperti mendapatkan mainan
boneka yang menggemaskan," ujar dia.
Menghajikan
Orang Tua
Di tengah
keriangan memelihara pasangan Smarty dan Bobo, yang kemudian beranak pinak
hingga berjumlah sangat banyak, Huraira mendadak terbetik niat ingin
memberangkatkan orang tua untuk menjalankan ibadah haji ke tanah suci Mekkah.
Sayangnya,
tabungan perempuan itu belum cukup, hingga ia hanya bisa bersabar dan berdoa
tiada terputus setiap hari. Sama sekali tidak disangkanya, Tuhan akan memberi
jalan keluar yang tak pernah terpikir sebelumnya.
"Saya
masih ingat, ketika itu ada tamu malam-malam. Sebelumnya, satpam rumah SMS dan
minta izin apakah bisa menerima tamu dari luar kota. Tamu tersebut mau melihat
kucing-kucing saya," katanya.
Huraira
lebih dulu minta izin suaminya, sebelum dia menemui tamu itu. Berhubung tamu
dari luar kota, Huraira merasa kasihan. "Mungkin dia benar-benar pecinta
kucing yang ingin sekali melihat dan bermain dengan kucing kucing saya,"
kata dia kepada suaminya.
Huraira pun
menemui tamu itu. Ternyata, begitu melihat kucing-kucing peliharaan Huraira
yang menggemaskan dan dalam kondisi terawat, tamu itu seketika berniat untuk
mengadopsinya. Tidak tanggung-tanggung, tamu itu menyatakan keinginan untuk
mengadopsi sebanyak 30 ekor.
Huraira
menjadi tertegun. Ketika kembali minta izin, suami memperbolehkannya, karena
memang peliharaan mereka sudah berkembang biak sangat banyak. Dengan berat
hari, Huraira pun menyisihkan beberapa kucing yang sangat disayanginya,
meskipun semuanya sebenarnya amat dikasihi.
"Saya
sempat sedih mau melepas kucing-kucing kesayangan itu. Tapi saya berpikir,
mungkin inilah jalan Tuhan, bagaimana supaya saya bisa cepat memberangkatkan haji
kedua orang tua," katanya.
Setelah
menimbang-nimbang antara kucing-kucing yang lucu ceria dan selalu membuat hati
damai di hati atau memilih orang tua bisa ke tanah suci dan kelak masuk surga,
Huraira merasa bodoh sekali bila tetap memilih kucing berada di pangkuannya.
Akhirnya,
dia ikhlas melepas kucing-kucing itu. Ketika satwa itu dimasukkan dalam
keranjang satu per satu, Huraira seolah tak kuasa melihatnya.
Dalam hati
dia berdoa semoga kucing-kucing itu lebih bahagia bersama "orang tua"
baru mereka. Sebaliknya, dia berdoa pula semoga kucing-kucing itu juga bisa
membahagiakan "orang tua" barunya.
"Dan
Alhamdullilah, sejak saat itu saya bisa segera menghajikan kedua orang tua.
Sebagian dari tabungan ditambah dari hasil adopsi kucing kesayangan saya.
Terimakasih 'my beloved Catty'. Terima kasih ya, Allah. Kenangan itu tak akan
pernah saya lupakan seumur hidup, bahwa kucing pun bisa membawa berkah dalam
perjalanan hidup kita," ujar Huraira, sembari hampir menitikkan air mata.

No Comment to " Menghajikan Orang Tua Berkat Kucing "